<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6680095633273317052</id><updated>2012-02-16T10:05:03.894-08:00</updated><title type='text'>Konsultasi keluarga dan anak</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6680095633273317052/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Konsultasi keluarga dan Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12923417186013387743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6680095633273317052.post-7538405920683920305</id><published>2009-01-04T21:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T21:56:16.582-08:00</updated><title type='text'>Perilaku Anak Berawal dari ASI</title><content type='html'>Ada Adi, 4,5 tahun, berarti ada keributan. Boleh jadi itu ungkapan yang tepat untuk bocah Taman Kanak-kanak itu. Pertengkaran tak cuma terjadi dengan temannya di sekitar rumah, di sekolah pun begitu. Ibunya mengeluh, tapi anak lelaki itu tak surut juga bertingkah-polah secara berlebihan. Cepat beradu mulut plus ringan tangan dan kaki.&lt;br /&gt;Ada kemungkinan pemicunya memang beragam. Namun, bila menilik sebuah penelitian terbaru tentang kaitan asupan air susu ibu (ASI) dengan perilaku dan mental anak, ada baiknya si ibu bertanya kepada diri sendiri, "Apakah si anak mendapat ASI dalam masa yang cukup?"&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan Dr Katherine Hobbs Knutson, dari Departemen Psikiatri, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa ASI secara signifikan mempengaruhi perangai sang anak di masa depan. Studi baru seperti dikutip dari HealthDay News ini menyebutkan, seorang ibu yang mencukupi asupan ASI bayinya tidak pernah melaporkan adanya masalah perilaku dan mental pada anaknya selama lima tahun fase pertumbuhannya. Namun, ditemukan anak yang cuma disusui selama dua bulan berpotensi berperangai buruk dibanding anak yang ditunjang ASI selama satu tahun.&lt;br /&gt;"Ini merupakan indikasi jika memberi ASI selama pertumbuhan dapat memiliki efek pada anak," kata Hobbs. Studi melibatkan sekitar 100 ribu partisipan dari usia 10 bulan hingga 18 tahun. Dalam penelitian, orang tua ditanya seputar pemberian ASI dan perilaku dan mental anaknya.&lt;br /&gt;Menurut spesialis anak, dr Soedjatmiko, selama proses menyusui akan terjadi interaksi penuh kasih sayang antara ibu dan buah hatinya. "Bayi merasa aman, nyaman, dan dilindungi sehingga terbentuk attachment basic trust sebagai landasan utama perkembangan emosi yang baik di kemudian hari," ujarnya.&lt;br /&gt;Konsultan laktasi, dr Utami Roesli, SpA, mengungkapkan, bayi yang terpenuhi asupan ASI akan memiliki emotional quetient (EQ) dan spiritual quetient (SQ) yang baik. "Ini yang akan membentuk behave-nya," ucapnya. Dibanding susu formula, menurut dia, kontak langsung dari kulit ke kulit membuat buah hati lebih merasa dekat. "Ketika menyusui juga ada rangsangan terhadap panca inderanya. Bayi akan merasakan, melihat, mencium, dan mendengar sesuatu yang ada di dekatnya, termasuk keintiman dengan ibunya." Anak yang diberi ASI akan tumbuh lebih cerdas dan sehat dibanding bayi dengan susu formula," kata Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia itu.&lt;br /&gt;Keampuhan ASI pun sudah terbukti. Utami memberi contoh Skandinavia dan Swedia, dua negara yang sangat mendukung asupan maksimal ASI kepada bayi dengan membuat kebijakan cuti bagi orang tua. "Bukan cuti hamil untuk ibunya saja," ujarnya. Di kedua negeri itu, cuti dapat diambil satu tahun penuh. Empat bulan pertama pasangan suami-istri tetap mendapat 100 persen gaji. Mulai bulan kelima, gaji dibayar 80-90 persen. "Kebijakan ini yang membuat anak-anak di Swedia dan Skandinavia cerdas dan sehat. Di sana juga sangat sulit ditemukan susu formula," ia menambahkan. Lagi pula, ia menegaskan, menyusui itu merupakan proses bertiga, yakni istri, suami, dan anak.&lt;br /&gt;Adapun pemenuhan ASI sudah harus dilakukan sejak bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa dicampur makanan atau cairan lain meski air putih sekalipun. "ASI diperlukan hingga usia bayi 2 tahun, tapi dengan makanan pendamping," kata Utami. Dari data yang dimilikinya, tercatat anak yang disusui ASI, IQ-nya lebih tinggi 12,9 poin pada usia 9 tahun.&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian American Academy of Pediatrics, asupan ASI pada bayi juga membuat anak terhindar dari penyakit infeksi, seperti diare, radang paru-paru, dan radang otak. Studi juga mengindikasikan mereka lebih rendah risiko terkena obesitas, diabetes, dan kanker. Hal ini disebabkan oleh kandungan enzim dalam ASI mendukung sistem pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Terutama dari kandungan yang terdapat pada susu jolong atau kolostrum--cairan kuning kental pada awal menyusui sampai hari keempat dan ketujuh.&lt;br /&gt;Tidak hanya untuk anak, menyusui juga sangat fungsional untuk kaum ibu. Menurut Utami, bagi ibu menyusui akan mencegah risiko anemia. Menyusui secara eksklusif selama enam bulan berdampak pada penundaan haid. Dengan demikian, ibu dapat menyimpan zat besi dan mencegah terjadi defisiensi zat besi yang memicu anemia. Lalu, isapan bayi pada payudara ibu juga akan mencegah perdarahan setelah melahirkan dan mempercepat involusi uterus (pengecilan rahim kembali). Selain itu, dapat mengurangi risiko terjangkit kanker payudara dan ovarium. "Banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara infertilitas dan tidak menyusui dengan peningkatan risiko terkena kanker," ucap Utami. Walhasil, dia menyimpulkan bayi akan sehat secara fisik, intelektual sekaligus emosional, jika hak ASI anak dapat dipenuhi oleh sang ibu. HERU TRIYONO&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/11/05/Gaya_Hidup/krn.20081105.146979.id.html"&gt;http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/11/05/Gaya_Hidup/krn.20081105.146979.id.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6680095633273317052-7538405920683920305?l=konseling-anak-didik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/feeds/7538405920683920305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/2009/01/perilaku-anak-berawal-dari-asi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6680095633273317052/posts/default/7538405920683920305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6680095633273317052/posts/default/7538405920683920305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/2009/01/perilaku-anak-berawal-dari-asi.html' title='Perilaku Anak Berawal dari ASI'/><author><name>Konsultasi keluarga dan Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12923417186013387743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6680095633273317052.post-5323931564456516063</id><published>2009-01-04T21:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T21:45:08.758-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Anak Mogok Sekolah?</title><content type='html'>Tanya:Anak saya perempuan, sekarang berumur 5 tahun, bersekolah di TK ‘B’. Tiga kali seminggu les matematika (bukan program sekolah). Di rumah ia senang menggambar dan nonton televisi tetapi tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Anak ini sukar diatur, tidak bisa dibatasi jam menggambar dan nonton televisi. Di sekolah ia tidak mau dipindahkan tempat duduknya. Anak saya ini tunggal, jadi saya tidak punya pembanding dengan anak lain di rumah. Ia jarang mau bergaul dengan anak-anak seusia, serta tidak mudah akrab dengan teman-teman saya atau teman suami saya.Belum lama ini ada psikotes (test IQ) di sekolah untuk persiapan pendaftaran ke SD. Hasil yang diperoleh, IQ anak saya tinggi. Saya pikir ia semestinya bisa mengikuti pelajaran di SD, tetapi umurnya bulan Juli nanti baru mencapai 5 ? tahun. Yang saya kurang mengerti adalah ia belakangan ini lebih sering tidak mau menulis, begitu pula kalau hitungan mulai agak sukar ia suka ngawur atau asal-asalan membuat jawaban, padahal ia sudah pernah melakukan hitungan serupa dan bisa menjawabnya.Dalam urusan mencari sekolah yang cocok, kebingungan saya bertambah, karena beberapa sekolah menetapkan usia 6 tahun pada waktu anak masuk kelas 1. Apakah memang anak saya yang berusia 5 ? tahun tidak dapat diterima di SD? Suami saya tampaknya tidak terlalu mendukung niat saya untuk memasukkan anak kami ke SD bulan Juli nanti. Masalahnya, suami saya khawatir kalau anak kami tidak dapat mengikuti pelajaran dan kemudian menjadi minder. Sekarang, anak kami sudah sering mogok sekolah. Ia juga tidak mau les matematika padahal ia sudah masuk kelas yang lebih tinggi. Jadi di tempat les matematikanya ia terpaksa dikembalikan ke kelas yang lebih rendah, tapi ia senang karena bisa mengerjakan soal-soalnya. Kadang-kadang saya tidak tahu apalagi yang harus dilakukan untuk menghadapi anak ini.Pertanyaan saya:1. Apa kira-kira yang menyebabkan anak saya mogok sekolah?2. Apakah anak saya dapat dimasukkan ke SD atau lebih baik saya menuruti pendapat suami saya?3. Bagaimana seharusnya saya menghadapi anak saya? Apakah saya harus bersikap keras dan memaksanya belajar menulis dan berhitung secara teratur setiap hari sesuai tuntutan TK-nya agar bisa masuk SD?LindaJakarta BaratJawab:Ibu Linda, banyak orang tua yang mengalami masalah dengan anak sebaya anak Anda ini. Jadi pertama-tama saya ingin memberi semangat agar Anda tidak gampang menyerah kepada keadaan. Mungkin Anda juga sudah pernah atau berencana berkonsultasi dengan psikolog yang berpraktik di sekitar kediaman Anda. Upaya ini menandakan bahwa Anda masih punya daya cukup besar guna mengendalikan situasi yang Anda hadapi. Setiap keadaan dapat berubah dan dapat diubah, baik situasi maupun orangnya. Anda dan suami perlu meyakinkan diri bahwa keadaan dapat diubah asalkan semua pihak yang terkait mau berpartisipasi dalam program perbaikan (remedial). Namun memang perjuangan orang tua dengan anak seperti yang Anda gambarkan ini cukup berat, tetapi bukan berarti tidak mungkin diatasi, jadi kita punya harapan. Dan cara mengatasinya juga sebetulnya tidak terlalu sulit, bila kita mengetahui dan mau menyadari akar permasalahannya.Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda, diperlukan beberapa informasi lain. Tetapi untuk mendapatkan gambaran, saya mencoba memberikan arahan agar Anda dapat sampai pada kesimpulan yang dibutuhkan.Kesulitan dapat timbul karena beberapa faktor. Ada faktor anak, faktor orang tua termasuk faktor teknik pengasuhan keluarga dan faktor lingkungan.Faktor anak terkait dengan kematangan fisik, mental dan kematangan sosial. Adakah fisik anak cukup siap untuk menerima pelajaran yang diberikan di SD? Cukup kuatkah anak untuk dapat duduk lama? Dapatkah anak menulis banyak kalimat dalam satu periode waktu, misalnya 5 menit? Kematangan fisik dan bertambahnya daya konsentrasi akan datang bersama dengan bertambahnya usia anak. Namun, kematangan fisik dan mental ini sangat individual. Karena itu disamping anak dipersyaratkan usia 6 tahun waktu masuk SD, kadang-kadang diukur dari profil inteligentifnya melalui test IQ untuk melihat kesiapan anak dapat mengikuti pelajaran di SD.Mengapa perjuangan para orang tua dianggap cukup berat? Karena ada masa-masa anak sulit diajak bekerja sama. Orang tua ingin anak melakukan hal-hal yang dianggap baik oleh orang tua, tetapi anak tidak merasa nyaman untuk melakukan sesuai keinginan orang tua. Perjuangan orang tua relatif cukup berat karena ada hal-hal yang terbawa dalam pola sikap dan pola pikir yang secara otomatis akan muncul dalam perilaku (cara sikap, cara bicara dan cara laku) yang tidak disadari dan akan terlontar tanpa terseleksi. Nah, dalam hal ini, pengendalian diri orang tua menjadi cukup pelik. Tidak bicara salah, tapi bicara bisa-bisa salah juga. Kalau bicara baik-baik, apakah sama pengertian ”baik-baik” pada pihak orang tua maupun pada pihak anak? Terkadang karena pola pikir yang tidak ”pas”, secara tidak sengaja orang tua mencela anak dengan menyatakan penyesalan atau memberikan ”cap” seperti malas, teledor, dan bahkan bodoh. Bila demikian halnya, maka anak akan mencoba menghindari suasana belajar bersama orang tua yang ”tukang kritik” karena mengganggu rasa nyaman dan amannya dan anak akan ”lari” dari situasi belajar ke situasi bermain di mana ia bisa menikmati dirinya sendiri.Lingkungan dan SuasanaApakah Anda dan lingkungan di rumah memberi cukup motivasi agar anak mau belajar? Atau adakah perubahan suasana di sekolah?Setiap orang akan cenderung mengulangi tingkah laku yang mendatangkan kesenangan dan menghindari tingkah laku yang tidak menyenangkan. Nah, mungkin ada sebab-sebab sampai anak Anda tidak mau lagi menulis. Mungkin kegiatan ini mengingatkannya pada pengalaman yang kurang menyenangkan. Ini bisa terjadi di rumah maupun di sekolah. Kemungkinan adanya perubahan suasana di rumah, mula-mula belajar itu menyenangkan, tetapi karena orang tua merasa ”terdesak” dengan tuntutan-tuntutan di SD favorit, maka mulai terjadi tekanan (pressure) terhadap anak agar belajar lebih banyak dan lebih berat. Terjadi peningkatan intensitas belajar yang signifikan secara drastis. Bila demikian, maka terjawablah pertanyaan Anda mengapa anak lebih suka menggambar berlama-lama. Karena dengan demikian ia dapat menikmati waktunya dengan santai dan bebas tekanan atau nonton televisi karena ia merasa terhibur. Pada anak-anak pra sekolah suasana bermain sangatlah menonjol dan sulit untuk diminta berkompetisi dengan anak lain apalagi dibayangi dengan ”ranking” sekolah yang belum masuk di akalnya. Ini hanya akan menimbulkan konflik antara orang tua dan anak. Tetapi bisa saja hal ini terjadi di sekolah. Demikian pula perlu dicari penyebab mengapa anak Anda menghindari sekolah? Jangan-jangan gurunya sama risaunya dengan Anda bila anak-anak muridnya tidak dapat diterima di SD sehingga semua murid dipaksakan untuk ”mengejar kurikulum SD”. Ini bisa jadi masalah gengsi (reputasi) sekolah yang seolah-olah dipertaruhkan pada setiap murid yang akan ”dikirim” ke SD. Maka dengan mudah kita bisa menjawab mengapa anak lebih suka tinggal di rumah daripada ke sekolah. Bisa jadi ia merasa punya ”kekuatan” di rumah sebagai anak tunggal yang tidak tersaingi dan tidak perlu kalah dibandingkan dengan teman kelasnya.Perlu diingat bahwa anak-anak bisa saja belajar dalam suasana bermain yang menyenangkan. Jadi efek pembelajaran tetap ada walaupun dalam suasana bermain yang lebih akrab bagi anak-anak pra-sekolah dasar. Di sini konsep edukasi yang atraktif memerlukan daya kreativitas tinggi dari para pengelola Taman Kanak-Kanak. Justru desain dan konsep pendidikan di Taman Kanak-Kanak perlu memperhatikan anak sebagai subjek dan bukan hanya menjadikan anak sekadar objek dari ambisi sekolah yang mengejar target dan kurikulum. Taman Kanak-Kanak harus memberikan impresi yang baik kepada anak mengenai sekolah agar institusi sekolah bisa memberikan bayangan yang menyenangkan kepada anak. Kita semua menginginkan anak berkembang dengan pintar disertai kelucuan anak-anak, riang dan bahagia, ketimbang ”pintar” tapi murung dan tertekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra. Grace A. Lumenta, PsiPsikolog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6680095633273317052-5323931564456516063?l=konseling-anak-didik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/feeds/5323931564456516063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/2009/01/mengapa-anak-mogok-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6680095633273317052/posts/default/5323931564456516063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6680095633273317052/posts/default/5323931564456516063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konseling-anak-didik.blogspot.com/2009/01/mengapa-anak-mogok-sekolah.html' title='Mengapa Anak Mogok Sekolah?'/><author><name>Konsultasi keluarga dan Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12923417186013387743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
